Saturday, January 10, 2015

Hobi Mengoleksi Amalan

Darmo paling senang kalau ia mendapatkan amalan dan ijazah wirid dari seorang Kyai. Bahkan ia benar-benar maniak “wirid”. Bukunya ada tiga jilid, semua isinya tulisan tentang wirid, doa, dzikir, macam-macam, sampai soal

pelet dan gendam pun ada di catatannya.
Buku itu ditenteng kemana-mana, layaknya tukang kredit. Suatu hari ia ingin pamer pada kawan lamanya yang sudah sekian tahun tidak bertemu, Kunto, nama kawan itu.

“Kun, bagaimana perkembanganmu, apa kamu sudah punya amalan untuk pegangan hidupmu?”
“Saya nggak punya apa-apa Mo, saya hanya punya satu saja …”
“Lah, amalan kok satu, kurang sempurna Kun. Kalau saya nih…” katanya sambil menyodorkan tiga buku catatan amalan itu.
“Kamu mestinya jadi sarjana Mo..”
“Wah saya sudah S 7. Mestinya sudah lebih professor soal amalan…”
Kunto hanya senyum-senyum saja.
“Jadi kamu sudah bisa apa
saja Mo?”
“Jangankan samurai, peluru pun sudah nggak mempan.
Orang sekampung juga sudah mulai tahu kedigdayaanku ini…”
“Sakti donk kamu?”
“Begitulah…”
“Sesakti-sakti kamu, kalau ketemu isterimu kamu juga sudah takut bukan main….”

“Kok tahu kamu?”
“Tau saja. Apa artinya kesaktianmu….kalau begitu”
“Bukan itu Kun. Wirid saya juga lengkap. Semua kalau diamalkan kita menjadi paling sempurna. Ibarat bumbu paling lengkap punyaku. Tapi kalau kamu kan Cuma satu….”
“Lha iya. Kalau kamu mau masak, semua bumbu kamu masukkan dalam masakan, jadinya rasa apa Mo…”
Darmo agak kebingungan.
“Iya..ya….Rasa apa ya? Tapi kan paling top kita…”
“Top apanya, paling –paling malah dibuang semua, karena rasanya bukan masakan lezat, malah jadi kayak jamu…mendem…siapa mau makan?”
Darmo memandangi begitu lama tiga catatan bukunya tak berkedip.
“Kalau kamu Cuma satu, itu amalan apa?”
“Akh sederhana. Satu itu kan Gusti Allah, tauhid…udah..”
Darmo memandangi wajah Kunto dalam-dalam. Ia bergegas memasukkan buku catatannya dalam tasnya. Ia tampak gelisah bukan main. Wajahnya pucat.
“Kun, kapan-kapan aku kesini lagi….”
“Pintu terbuka untukmu kawan. Syukur-syukur kamu sudah jadi dukun…”

Thursday, January 1, 2015

INGIN KAYA DENGAN JALAN HITAM, RENUNGKANLAH !

POSMO. Bosan miskin, ingin kaya mendadak? Menempuh jalan hitam bersekutu dengan makhluk halus? Sebelum menjadi korban, renungkanlah dalam-dalam!

Bagi mereka yang bersekutu dengan makhluk pesugihan, tentu mengetahui cara kerja makhluk peliharaannya. Sedangkan orang awam, mungkin hanya mendengar kabar dari mulut ke mulut. Sebenarnya, cara kerja makhluk pesugihan itu macam-macam. Bagi yang kelas tinggi, tidak mencuri harta kekayaan orang lain. Tetapi, yang jenis ‘babi ngepet’ dan tuyul, dan yang kelas rendahan, mereka menggerogoti uang orang lain.

Pesugihan kelas tinggi adalah jenis Blorong. Dalam sebuah legenda, Nyi Blorong adalah pasukan utama yang paling sakti kerajaan gaib Laut Selatan. Wujudnya berbadan ular berkepala wanita cantik. Ia memiliki pasukan sehingga apa saja yang diinginkan tercapai. Dari hasil pelacakan narasumber, cara kerja makhluk ini dalam mencari harta, tidak mencuri milik orang lain. Tetapi mengambil rezeki anak-turun orang yang melakukan perjanjian dengan mereka.

Allah Ta’ala telah menentukan rezeki dan umur seseorang, serta perjalanan hidupnya (nasibnya). Meski orang itu belum dilahirkan ke dunia, semuanya sudah ditentukan oleh Tuhan. Untuk rezekinya sudah digantungkan di langit dan disebarkan di muka bumi.

Rezeki yang digantungkan di langit dan yang tersebar itulah yang dibegal oleh iblis berserta anak buahnya seperti jin, ifrit, blorong, dan makhluk halus golongan hitam lainnya. Selain dari bangsa mereka, iblis juga berusaha mencari pengikut dari golongan manusia. Seperti halnya orang-orang penganut pesugihan hitam. Salah satu caranya, mengikat perjanjian dalam memburu pesugihan. Iblis memperdayanya, dengan mengambilkan rezeki anak-cucunya yang belum lahir, lantas diberikan kepada orang yang bersangkutan. Kelak, anak cucunya diharapkan juga tersesat.

Mengenai besarnya penghasilan, yakni jumlah uang pancingan yang ditaruh di sebuah kotak khusus misalnya Rp 10 juta. Maka, uang yang didapat oleh makhluk pesugihan hitam itu disamakan dengan jumlah simpanan tersebut. Apabila ingin bertambah, maka jumlah uang contoh yang disimpan harus ditambah.

Apabila rezeki anak turunan ke-3 yang belum lahir sudah habis, maka makhluk itu meningkat mencari rezeki keturunan ke-4, lalu ke-5, dan seterusnya. Bila orang-orang dulu, guru pesugihan hitam kebanyakan harta kekayaannya berupa sawah ladang yang luas, binatang ternak sapi dan kerbau yang banyak, rumahnya besar, maka orang sekarang mobilnya banyak dan bagus, rumahnya megah, dan hartanya banyak.

Begitu meninggal, hartanya susut dan habis. Sawah-sawahnya terjual, ada yang diperebutkan anak-anaknya. Ada pula yang terbakar tanpa sebab. Pada giliran anak cucunya pada miskin semua. Hal tersebut karena rezeki yang dijatah oleh Tuhan sudah dirampok leluhurnya.